4 Oktober 2011

Konsisten dalam kebaikan


 
"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun juga."
"Hendaklah engkau membuat kebaikan."

          Setiap muslim mencintai kebaikan dan menyukai perbuatan ma'ruf. Akan tetapi tidak semua muslim mempunyai motivasi agar terus menerus mencari pintu-pintu kebajikan dan jalan-jalan ibadah, di mana ia tidak meninggalkan celah yang kosong dari kebaikan yang bisa dilakukan kecuali ia menutupinya, celah yang kecil atau besar, yang agung atau yang hina.
          Kita akan menemukan dalam hadits-hadits Rasulullah r begitu banyak perbuatan-perbuatan ma'ruf yang menantikan orang-orang yang menginginkan pahala dan memikirkan perkara saudara-saudara mereka dari kaum mukminin, seperti sabdanya r:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ, وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ, وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيْهِ...

Sifat Qana'ah dan 'Iffah


Qana'ah (merasa cukup) dan 'iffah (suci, jauh dari sifat yang tidak baik, dan menahan diri dari meminta)

'Jadilah engkau orang yang bersifat qana'ah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur.'

          Gambaran orang yang haus terhadap dunia, selalu ingin memperbanyak harta dengan rakus tamak, adalah yang senang dengan yang hina, terbiasa mengeluh, dan selalu meminta. Inilah gambaran yang tidak sesuai dengan kemuliaan seorang mujahid (pejuang), qana'ah (merasa cukup), 'iffah, dan ridha dengan pembagian Allah kepadanya.
          Sesungguhnya sikap pasrah terhadap sifat tamak (rakus) tidak ada akhirnya apabila seseorang melepaskan tali kendali nafsu syahwatnya. Disebutkan dalam hadits:
...إِنَّ هذَا اْلمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ, فَمَنْ أَخَذَهَا بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُوْرِكَ لَهُ فِيْهِ, وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيْهِ, كاَلَّذِي يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ

Kejujuran



عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
"Kamu harus selalu jujur, maka sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan…"

          Jujur dalam arti sempit adalah sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. Maka orang yang jujur bersama Allah I dan bersama manusia adalah yang sesuai lahir dan batinnya. Karena itulah, orang munafik disebutkan sebagai kebalikan orang yang jujur, firman Allah :
لِّيَجْزِيَ اللهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ

Wahai Puteriku


Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.
          Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarkanlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, yang belum pernah engkau dengar dari orang lain sebelumnya.
          Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.

2 Oktober 2011

MEMBERI SALAM, MENJAWAB ORANG BERSIN DAN DO’A UNTUK ORANG SAKIT


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ r: أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟, قَالَ: (( تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ))
“Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al 'Ash y, ia menuturkan; pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi r: “Ajaran Islam yang manakah yang paling baik?. Rasulullah r menjawab: ”Kamu memberi makan dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang belum kamu kenal”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Abu Hurairah t berkata: “Rasulullah r pernah bersabda:

DO’A DAN DZIKIR KETIKA ADZAN DAN SESUDAHNYA


 
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r قَالَ: ((إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ ))
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudry t, sesungguhnya Rasulullah r pernah bersabda: “Apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin". (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah t, bahwa Rasulullah r bersabda: “Siapa yang setelah  mendengar adzan mengucapkan:
(( اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ ))

DO’A DAN DZIKIR KETIKA MELIHAT SUATU NEGERI ATAU KEMBALI DARI NEGERI YANG LAIN


Diriwayatkan dari Shuhaib t; bahwa Nabi r tidak melihat suatu negeri yang beliau inginkan untuk memasukinya kecuali selalu mengucapkan:
(( اللّهُمَّ رَبَّ السَمَوَاتِ السَبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَرَبَّ الأَرَاضِيْنَ السَبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ وَرَبَّ الشَيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَبَّ الرِيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ, أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ القَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيْها, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا ))
“Ya Allah Tuhan tujuh langit dengan apa yang ada di dalamnya dan Tuhan tujuh bumi beserta seluruh isinya, Tuhannya syaitan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhannya segala angin dan segala apa yang diterbangkannya. Aku memohon kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya serta yang ada di dalamnya dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan negeri ini dan kejahatan penduduknya serta segala yang ada di dalamnya". (HR. Nasa'i dengan sanad hasan).
Anas t berkata: "Kami pernah pulang bersama Nabi r, hingga ketika kami menjelang sampai di kota Madinah, Rasulullah  r berdo’a:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...