16 Februari 2012

Teori Pertumbuhan Ekonomi


Perbedaaantara teori yang satu dan yang lain terletak pada perbedaan fokus pembahasan dan atau asumsi-asumsi yang digunakan.
a.   Teori Jumlah Penduduk Optimal
Teori ini dikembangkan oleh kaum klasik. Menurut teori tersebut, berlakunya  the law of diminishing returns menyebabkan  tidak semua penduduk dapat dilibatkan dalam proses produksi. Jika dipaksakan, akan menurunkan  tingkat output perekonomian. Agar penambahan  tenaga kerja dapat meningkatkan output, yang harus dilakukan adalah investasi barang modal dan sumber daya manusia yang menunda terjadinya gejala the law of diminishing returns.

b.   Teori Pertumbuhan Neo-Klasik
Teori  ini dikembangkan oleh Solo(1956)  yang merupakan penyempurnaan  dari teori-teori klasik sebelumnya. Fokus pembahasan teori pertumbuhan neo-klasik adalah akumulasi stok barang modal dan keterkaitannya  dengan keputusan masyarakat untuk menabunatau melakukan investasi. Asumsi-asumsi dari teori ini antara lain:
1)   tingkat teknologi dianggap kostan (tidak ada kemajuan teknologi);
2)    tingkat depresiasi dianggap konstan;
3)    tidak ada perdagangan luar negeri atau aliran keluar masuk barang modal;
4)   tidak ada sektor pemerintah;
5)    tingkat pertambahan penduduk (tenaga kerja) juga dianggap konstan.

c.    Teori Schumpeter
Schumpeter menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh inovasi dan pengusaha. Dalam membahas perkembangan ekonomi, Schumpeter membedakan pengertian pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi walaupun keduanya merupakan sumber peningkatan output masyarakat.
Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan output masyarakat yang disebabkan semakin banyaknya jumlah faktor produksyang digunakan  dalam proses produkstanpa perubahan teknologi produksi itu sendiri. Adapun pembangunan ekonomi adalah kenaikan  output yang disebabkaoleh inovasi yang dilakukan  oleh pengusaha. Inovasi di sini berarti perbaikan teknologi  dalam arti luas, misalnya penemuan produk baru dan pembukaan  pasar baru. Inovasi tersebut menyangkut  perbaikan kuantitatidari sistem ekonomi  itu sendiri bersumber dari kreativitas para wirausahanya.
d.   Teori Harrod-Domar
Teori Harrod-Domar dikembangkan secara terpisah dalam periode yang bersamaan oleh E. S. Domar dan R. F. Harrod. Keduanya melihat pentingnya  investasi terhadap pertumbuhan  ekonomi,  sebab investasi akan meningkatkan stok barang modal, yang memungkinkan pening- katan output. Sumber dana domestik untuk keperluan investasi berasal dari bagian produksi (pendapatan nasional) yang ditabung.

Asumsi yang digunakan dalam teori ini antara lain:
1)    semua barang modal yang terdapat dalam perekonomian  sudah sepenuhya digunakan;
2)    perekonomian  hanya terdiri atas dua sektor, yaitu sektor rumah tangga dan sektor perusahaan;
3)    tabungan rumah tangga sebanding dengan pendapatan  nasional.
Artinya fungsi tabungan dimulai dari titik nol;
4)   rasio modal  produksi  (Capital  Output Ratio = COR), yaitu perbandingan antara pertambahan modal dan pertambahan produksi adalah tetap.
e.   Teori Rostow
Teori ini melihat pembangunan ekonomi sebagai proses perubahan yang bersifat garis lurus dan bertahap. Menurut Rostowsuatu perekonomian akan berkembang menjadi perekonomian maju dalam lima tahap, yaitu sebagai berikut.
1)   Tahap Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)
Masyarakat tradisional masih terikat oleh keadaan adat-istiadat dan sistem masyarakatnya masih primitif serta masih dipengaruhi oleh nilai-nilai tidak rasional.
2)    Tahap Pra-Lepas Landas (Precondition for Take Off )
Tahap pra-lepas landas adalah tahap perekonomian mampu tumbuh dan berkembang dengan kekuatan mandiriPada tahap ini, dalam masyarakat lahir kelas menengah yang menguasai perdagangan. Selain itu, muncul aktivitas sosial di bidang transportasi dan modernisasi pertanian. Dalam keadaan seperti ini, tahap tinggal landas mulai dipersiapkan.
3)    Tahap Tinggal Landas (Take Off )
Keadaan masyarakat pada tahap tinggal landas ditandai oleh meningkatnya investasi dan pendapatan  riil masyarakat.  Bidang- bidang industri mengalami perubahan yang mendasar, antara lain meluasnya peranan sektor industri unggul.
4)   Tahap Kematangan (The Drive Maturity)
Pada tahap ini keadaan masyarakat telah mengenal penggunaan teknologtinggi. Sektor-sektor industri memengaruhi  sektor-sektor lainnya. Manajemen profesional telah mulai berkembang dengan cepat.
5)    Tahap Konsumsi Tinggi (The Age of High Mass Consumption)
Keadaan masyarakat pada tahap ini telah berkembang secara mandiri.  Keadaan  teknologi  dalam masyarakat konsumstinggi dapat dikatakan sudah matang.
Beberapa tokoh dari aliran historis juga memandang pertumbuhan ekonomi sebagai proses perubahan secara bertahap, di antaranya:
1)   Werner Sombart membagi menjadi empat tingkatan, yaitu:
a)    Volkapitalismus/prakapitalis/kapitalis purba;
b)     Fruhkapitalismus/kapitalis madya;
c)     Hochkapitalismus/kapitalis raya;
d)     Spatkapitalismus/kapitalis akhir.
2)    Friedrich List membagi menjadi lima tingkatan, yaitu masa:
a)    berburu dan mengembara;
b)     berternak dan bertani; 
c)     bertani dan kerajinan; 
d)     kerajinan industri;
e)    industri dan perniagaan.

3)     Karl Bucher, membagi menjadi empat tingkatan, yaitu rumah tangga:
a)   tertutup; 
c)    bangsa; 
b)   kota;
d)    dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...