11 September 2011

Amalan-Amalan Berpahala Seperti Shalat Malam (bagian 3)


6. Akhlak yang baik.

‘Aisyah -radiallahu'anha- berkata,
"Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
[ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ] رواه الإمام مالك (1675) ، وأحمد واللفظ له الفتح الرباني- (19/76) ، وأبو داود (4798) ، وابن حبان (480) ، والحاكم (199) ، وصححه الألباني في صحيح الجامع (1620) .
“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang senantiasa shalat di malam hari dan puasa di siang hari.” [1]
Abu Thayib Muhammad Syamsuddin Âbadi -rahimahullah- berkata,
"Orang yang berakhlak baik diberi keutamaan agung ini karena, orang yang berpuasa dan shalat malam melawan keinginan dirinya yang berat melakukannya, sedangkan orang yang mempergauli manusia dengan akhlak yang baik dengan keragaman tabiat dan akhlak mereka seperti melawan banyak jiwa, sehingga mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang  yang senantiasa berpuasa dan shalat malam. Menjadi samalah derajatnya bahkan mungkin lebih.[2]
Berakhlak baik yaitu dengan memperbagus muamalah dengan manusia dan menahan diri dari mengganggu mereka.
Sesungguhnya manusia tidaklah diberi sesuatu setelah iman yang lebih baik dari pada akhlak yang baik. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- memohon kepada Tuhan-Nya -azzawajalla-  diberi akhlak yang baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir ibn Abdillah -rahimahullah- bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasalam- jika membaca "istiftah" (bacaan pembuka shalat setelah takbir) membaca:
[ إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين  لا شريك له  وبذلك أمرت وأنا من المسلمين  اللهم اهدني لأحسن الأعمال وأحسن الأخلاق  لا يهدي لأحسنها إلا أنت  وقني سيئ الأعمال وسيئ الأخلاق  لا يقي سيئها إلا أنت ] رواه الإمام أحمد الفتح الرباني- (3/181) ، ومسلم (771) ، والترمذي (3421) ، والنسائي واللفظ له (897) ، وأبو داود (760) ، والدارمي (1238) ، وابن خزيمة (462) ، والبيهقي (2172) ، وأبو يعلى (285).
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu baginya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang berserah diri. Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku sebaik-baik amal dan sebaik-baik akhlak, tidak ada yang menunjukkan kepada kebaikannya kecuali Engkau, peliharalah aku dari seburuk-buruk amal dan seburuk-buruk akhlak, tidak ada yang memelihara dari keburukan kecuali Engkau.[3]
Demikian pula yang dilakukan Rasul -shalallahu alaihi wasalam- ketika melihat ke cermin sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud -radiallahu'anhu- katanya,
"Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- jika melihat ke cermin berdo’a:
[ اللهم كما حسنت خَلْقِي فحسن خُلُقِي ] رواه الإمام أحمد الفتح الرباني- (14/281) ، وابن حبان (959) ، وأبو يعلى (5075) ،  والطيالسي واللفظ له (374) ، وصححه الألباني في صحيح الجامع (1307)
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaanku maka perbaguslah akhlakku.” [4]
Orang yang berakhlak baik adalah manusia yang paling mencintai Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dan yang paling dekat majelisnya pada hari kiamat. Jabir -radiallahu'anhu- meriwayatkannya kepada kita bahwa Raasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,
[ إن من أحبكم إلي  وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة  أحاسنكم أخلاقًا ] رواه الإمام أحمد الفتح الرباني- (23/13) ، والترمذي واللفظ له (2018) ، والطبراني في الكبير (10424) ، والبخاري في الأدب المفرد (272) ، وصححه الألباني في صحيح الترغيب والترهيب (2649) .
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” [5]
Allah -azzawajalla- akan memberikan istana bagi yang berakhlak baik di surga yang paling tinggi, karena begitu besar pahalanya, dan sebagai penghormatan baginya. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili -radiallahu'anhu- bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,
[ أنا زَعِيمٌ ببيت في رَبَضِ الجنة لمن ترك الْمِرَاءَ وإن كان محقا  وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحا  وببيت في أعلى الجنة لمن حَسَّنَ خُلُقَهُ ] رواه أبو داود واللفظ له (4800)، والبيهقي (20965)، والطبراني في الكبير (7488)، وحسنه الألباني في صحيح الجامع (1464).
"Aku adalah pemimpin pada rumah di dasar surga bagi yang meninggalkan riya (pamer), sekalipun benar dan di pertengahan surga bagi yang meninggalkan dusta walaupun bergurau dan di surga yang paling tinggi bagi yang memperbagus akhlaknya.” [6]
Berakhlak baik seyogianya tidak sebatas kepada orang-orang yang jauh saja, sementara orang-orang yang dekat terlupakan. Ia mencakup juga kedua orang tua dan setiap anggota keluargamu. Sebagian orang engkau dapati bertutur kata baik, lapang dada dan sopan santun dalam berakhlak kepada orang lain, tetapi sebaliknya jika kepada keluarga dan anak-anaknya.

7. Berupaya berkhidmat kepada para janda dan orang-orang miskin.
Abu Hurairah -radiallahu'anhu- berkata, "Nabi -shalallahu alaihi wasalam-  bersabda,
[ السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ  كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ ] رواه الإمام أحمد الفتح الرباني- (19/55) ، والبخاري واللفظ له (5353) ، ومسلم (2982) ، والترمذي (1969) ، والنسائي (2577) ، وابن ماجه (2140) ، وابن حبان (4245) ، والبيهقي (12444).
“Orang yang berupaya berkhidmat kepada para janda dan orang-orang miskin seperti mujahid di jalan Allah atau seperti orang yang shalat 'qiyamul lail' dan puasa di siang hari.” [7]
Mungkin sekali engkau dapatkan pahala yang banyak ini dengan berkhidmat kepada orang-orang fakir dalam membantu mendaftarkan mereka pada "jam’iyyah khairiah" (lembaga sosial) misalnya, agar di data kebutuhan-kebutuhan mereka dan diberi bantuan.
Mungkin juga mendapat pahala besar ini jika berusaha berkhidmat kepada para janda, yaitu wanita yang ditinggal mati suaminya sehingga menjadi fakir. Ini bukan perkara sulit karena jika engkau selidiki keluarga terdekatmu akan engkau dapati ada saja yang ditinggal mati suaminya dari bibi-bibimu atau dari garis nenek. Dengan berkhidmat kepada mereka dan membelikan kebutuhan-kebutuhannya engkau akan mendapat pahala jihad atau pahala qiyamul lail.
8. Menjaga sebagian dari adab-adab Jumat.
Aus ibn Aus ats-Tsaqafi -radiallahu'anhu- berkata,
“Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
[ مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ  ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ  وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ  وَدَنَا مِنْ الإِمَامِ  فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَل كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ  أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا ] رواه الإمام أحمد الفتح الرباني- (6/51) ، والترمذي (496) ، وأبو داود واللفظ له (345) ، والنسائي (1381) ، وابن ماجه (1087) ، والدارمي (1547) ، والحاكم (1041) ، وابن خزيمة (1758) ، وصححه الألباني في صحيح الجامع (6405) .
“Barang siapa yang mandi pada hari Jumat kemudian bersegera (ke masjid) dengan berjalan kaki, tidak naik kendaraan, kemudian mendekat ke imam mendengarkan (khotbah Jumat), tidak bergurau, maka setiap satu langkahnya dihitung amal satu tahun pahala seperti pahala puasa dan shalat malam” [8]
Satu langkah menuju shalat Jumat bagi yang melaksanakan adab-adab yang disebutkan tidak menyamai pahala qiyamul lail satu kali, seminggu atau sebulan, akan tetapi menyamai pahala setahun penuh. Karenanya perhatikanlah besarnya pahala ini.
Adab-adab tersebut dalam bentuk: mandi pada hari Jumat, bersegera menuju masjid, berjalan kaki menuju masjid, mendekat pada imam, tidak menjauh ke barisan yang paling akhir, mendengarkan khotbah dengan baik dan tidak melakukan lagha (kesia-siaan) dan bergurau.
Perlu diketahui bahwa main-main saat khotbah berlangsung terhitung lagha (kesia-siaan). Siapa yang berbuat lagha (kesia-siaan), tidak ada pahala shalat Jumat baginya. Siapa yang memainkan batu atau kerikil berarti telah berbuat lagha. Siapa yang berkata: “diam!” berarti telah berbuat lagha. Berkata kepada teman atau anaknya yang masih kecil, “diam!” berarti telah berbuat lagha. Siapa yang memainkan tasbihnya atau handphonenya atau apa saja ketika khotbah tengah berlangsung berarti telah berbuat lagha.
Tidak seyogianya lalai dengan adab-adab Jumat sama sekali agar tidak merugi dengan pahala yang besar ini yang akan memberatkan timbanganmu dengan banyak dan memberimu pahala qiyamul lail bertahun-tahun.


[1] HR. Imam Mâlik no.1675. Ahmad dan ini lafadznya, lihat kitab al-Fathur Rabbani XIX/76. Abu Dawud no.4798, Ibnu Hibban no.480, al-Hakim no.199. Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’ no.1620.
[2] ‘Aunu al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud karya Abu Thayib Muhammad Syamsuddin al-Haq al-‘Adzhim Abadi XIII/154 no. 4798.
[3] HR. al-Imam Ahmad –al-Fathu ar-Rabbani- III/181, Muslim no.771, at-Tirmidzi no.3421, an-Nasai dan ini lafadhznya no.897, Abu Dawud no.760, ad-Darimi no.1238, Ibnu Khuzaimah no.462, al-Baihaqi no.2172 dan Abu Ya’la no.285.
[4] HR. al-Imam Ahmad –al-Fathu ar-Rabbani- XIV/281, Ibnu Hibban no.959, Abu Ya’la no.5075, at-Thayalisi dan ini lafadhznya no.374 dan al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’ no.1307.
[5] HR. al-Imam Ahmad –al-Fathu ar-Rabbani- XXIII/13, at-Tirmidzi dan ini lafadhznya no.2018, at-Thabarani dalam al-Kabir no.10424, al-Bukhari dalam al-Adab al-mufrad no.272 dan al-Albani menshahihkannya dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no.2649.
[6] HR. Abu Dawud dan ini lafadhznya no.4800), al-Baihaqi no.20965, at-Thabarani dalam al-Kabir no.7488, dan al-Albani menghasankannya dalam Shahih al-Jami’ no.1464.
[7] HR. Imam al-Ahmad –al-Fathu ar-Rabbani- XIX/55, al-Bukhari dan ini lafadhznya no.5353, Muslim no.2982, at-Tirmidzi no.1969, an-Nasai no.2577, Ibnu Majah no.2140, Ibnu Hibban no.4345 dan al-Baihaqi no.12444.
[8] HR. al-Imam Ahmad –al-Fathu ar-Rabbani VI/51, at-Tirmidzi no.496, Abu Dawud dan ini lafadhznya no.345, an-Nasai no.1381, Ibnu Majah no.1087, ad-Darimi no.1547, al-Hakim no.1041, Ibnu Khuzaimah no.1758 dan al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’ no.6405.

sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...